Nama : Yeni Dwi Arista
NIM :
241012300384
Tugas :
T2.8 Aksi Nyata
Mata Kuliah : Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia
Intruksi :
Pada
akhir pembelajaran setiap topik, Anda diminta untuk merefleksikan pembelajaran
dalam blog masing-masing, dengan menggunakan alur MERDEKA seperti dalam proses
pembelajarannya. Anda bisa menceritakan refleksi Anda dengan caranya
masing-masing, bisa narasi yang dilengkapi visual, ataupun narasi saja, atau
model kreatif lainnya. Berikut ini panduan pertanyaan yang dapat membantu Anda
menuliskan blog
Mulai Dari Diri
Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai
proses pembelajaran?
Sebelum
memulai proses pembelajaran pada topik 2 mata kuliah Perspektif Sosiokultural
dalam Pendidikan Indonesia, saya berpikir bahwa saya hanya akan mempelajari
mengenai implementasi perspektif sosiokultural dalam pendidikan di Indonesia.
Namun, setelah mempelajari fase awal, saya tidak hanya mempelajari tentang
implementasi perspektif sosiokultural dalam pendidikan, tetapi juga belajar
tentang konsep dasar perspektif sosiokultural. Selain itu, saya juga
menganalisis penerapan konsep dasar perspektif sosiokultural dalam pendidikan
serta pentingnya faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam
penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran.
Eksplorasi Konsep
Apa yang Anda pelajari
dari konsep dalam topik ini?
Dalam
fase eksplorasi konsep ini, saya juga memperoleh pemahaman tentang pentingnya
konteks sosial dalam pendidikan. Saya belajar bahwa pendidikan tidak hanya
terjadi di dalam kelas, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial di luar
sekolah. Saya menyadari bahwa perbedaan sosial, seperti status ekonomi, budaya,
dan politik, dapat memengaruhi akses dan kualitas pendidikan yang diterima
oleh peserta didik.
Selain itu, saya juga mempelajari tentang pentingnya memahami sejarah dan budaya dalam
pendidikan. Dengan memahami konteks budaya-historis, saya dapat mengenali
pengaruh-pengaruh yang telah membentuk sistem pendidikan saat ini. Saya juga
belajar bahwa pendidikan tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga
tentang membentuk identitas dan memperkuat nilai-nilai budaya.
Dalam
mempelajari Cultural-Historical Activity Theory (CHAT), saya menyadari bahwa
pikiran dan aktivitas peserta didik saling terkait
dan saling mempengaruhi. Saya belajar bahwa pendidikan harus melibatkan peserta
didik secara aktif dalam aktivitas yang relevan dan bermakna bagi mereka.
Dengan memahami hubungan ini, saya dapat merancang pengajaran yang lebih
efektif dan relevan bagi peserta didik. Secara keseluruhan, fase eksplorasi
konsep ini telah memberikan pemahaman yang mendalam tentang perspektif
sosiokultural dalam pendidikan. Saya merasa lebih siap dan percaya
diri dalam menjalankan peran sebagai seorang pendidik di masa depan, karena
saya memiliki pemahaman yang lebih luas tentang faktor- faktor sosial,
ekonomi, budaya, dan politik yang memengaruhi pendidikan peserta didik. Saya juga memiliki alat analisis, seperti
analisis budaya-historis dan Cultural-Historical Activity Theory (CHAT), yang
akan membantu saya dalam merancang pengajaran yang sesuai dan mendukung peserta
didik.
Ruang Kolaborasi
Apa
yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang kolaborasi?
Saya dan rekan-rekan saya telah mempelajari lebih lanjut
dalam ruang kolaborasi. Kami melakukan diskusi dan analisis terhadap studi
kasus yang ada di LMS. Kami saling bertukar pendapat dan menambah wawasan mengenai
faktor sosial, budaya,
ekonomi, dan politik
yang mempengaruhi pendidikan dari video dewi dan putri : Ketimpangan di Indonesia memisahkan dua anak permpuan, Rantai
keluarga miskin, kemiskinan picu ketimpangan pendapat dan Bagaimana upaya guru
memperhatikan siswa berlatar bstatus sosial ekonomi rendah di Sekolah dasar.
Ketiga cerita tersebut
memiliki latar belakang
dan permasalahan yang berbeda-
beda. Melalui ruang kolaborasi ini, kami memahami bagaimana guru atau pendidik
dapat mempertimbangkan perspektif sosiokultural dalam metode pengajaran. Kami
juga menyadari pentingnya mengembangkan kreativitas untuk memberikan motivasi
dan semangat kepada peserta didik dalam proses pendidikan.
Kami
juga belajar bahwa pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan akademis, tetapi
juga tentang pengembangan karakter, keterampilan sosial, dan pemahaman tentang
dunia yang lebih luas. Dengan bekerja sama dan saling mendukung, kami yakin bahwa kami dapat menciptakan
lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berdaya bagi semua peserta didik.
Melalui kolaborasi ini, kami merasa lebih siap dan termotivasi untuk terus
meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan kami.
Demonstrasi Kontekstual
Apa
hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda
jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)?
Hal
yang penting yang saya pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang saya
jalani bersama kelompok adalah
sebagai berikut: Pertama,
terkait materi, saya belajar bahwa seorang
pendidik harus siap menghadapi berbagai permasalahan yang mungkin timbul saat
mengajar. Setiap peserta didik
memiliki karakteristik dan latar belakang
yang berbeda, sehingga
seorang pendidik harus mampu menganalisis perspektif sosiokultural dari
peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang ada. Selain itu, saya juga
belajar bahwa seorang pendidik harus memiliki semangat, ketulusan, dan
keikhlasan dalam mendidik generasi penerus bangsa. Jika dihadapkan dengan
peserta didik yang mengalami masalah seperti tidak ingin bersekolah, pendidik
harus mampu memberikan motivasi agar peserta didik mau belajar kembali.
Kedua,
terkait rekan, saya belajar banyak hal baru dari fase ruang kolaborasi. Kami
membagi tugas dalam menganalisis cerita, kemudian mengadakan forum diskusi
untuk saling bertukar pendapat dan menambah wawasan dengan sudut pandang yang
berbeda.
Ketiga,
terkait diri sendiri, saya banyak berlatih menyampaikan pendapat dan gagasan
dari hasil analisis cerita yang saya baca. Saya juga mendapatkan banyak ilmu pengetahuan melalui diskusi dengan kelompok saya, yang semakin menambah
wawasan dan semangat dalam mengajar serta menjalankan tugas sebagai seorang
pendidik.
Elaborasi Pemahaman
Sejauh ini, apa yang sudah Anda pahami tentang
topik ini?
Pengetahuan saya tentang topik
ini mencakup pemahaman mendalam tentang konsep
dasar dari sudut pandang
sosiokultural dalam pendidikan. Saya memahami bahwa
pendidikan tidak hanya terbatas pada aspek akademik,
tetapi juga harus mempertimbangkan faktor-faktor sosial, budaya, ekonomi, dan
politik yang mempengaruhi peserta didik.
Dalam merancang strategi pembelajaran, saya selalu mengutamakan kepentingan peserta didik. Saya memahami bahwa setiap peserta
didik memiliki latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan politik
yang berbeda-beda. Oleh karena itu, saya berusaha
untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan
memperhatikan keberagaman peserta didik.
Saya
juga memahami bahwa faktor- faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik dapat
mempengaruhi motivasi, minat dan kemampuan belajar peserrta didik. oleh karena
itu saya berusaha untuk mengidentifikasi dan memahami faktor- faktor ini agar
dapat merancang strategi pembelajaran yang relevan dan efektif
Selain
itu saya juga memahami bahwa Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari konteks
sosial, budaya, ekonomi dan politik yang ada. Saya menyadari bahwa kebijakan
Pendidikan, system Pendidikan dan struktur
sosial dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Oleh karena itu saya
berusaha untuk memahami dan mengkaji
faktor- faktor ini agar dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan
konteks yang ada. Dalam merancang pembelajaran saya juga memperhatikan kepentingan peserta
didik. saya berusaha untuk menciptakkan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memperhatikan keberagaman peserta didik. saya juga berusaha untuk membangun hubungan yang
baik dengan peserta didik sehingga mereka meraa
nyaman dan termotivasi untuk belajar.
Apa
hal baru yang Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum
pembelajaran dimulai?
Saya
awalnya berpikir bahwa pendidikan yang diberikan oleh guru sudah cukup
memberikan dampak positif bagi peserta didik. Namun, setelah mempelajari
perspektif sosiokultural topik 2 ini, saya mendapatkan pemahaman baru tentang
Status Sosial Ekonomi (SES) dan variasi interaksi antara orang dewasa dan anak
dalam konteks pendidikan. Interaksi antara orang tua dan peserta didik dapat
menjadi mediasi antara guru dan peserta didik dalam meningkatkan motivasi,
sikap, dan tujuan belajar peserta didik.
Apa yang ingin
Anda pelajari lebih lanjut?
Saya
tertarik untuk memahami lebih dalam mengenai cara-cara menerapkan konsep dasar
perspektif sosiokultural dalam dunia pendidikan melalui penggunaan status
sosial ekonomi (SES) di lingkungan sekolah atau contoh konkretnya dalam konteks
pendidikan.
Dalam
dunia pendidikan, konsep dasar perspektif sosiokultural dapat diterapkan
melalui penggunaan status sosial ekonomi (SES) di lingkungan sekolah. SES
merujuk pada posisi sosial dan ekonomi seseorang dalam masyarakat, yang
mencakup pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan aset lainnya. Penggunaan SES
dalam konteks pendidikan bertujuan untuk memahami dan mengatasi ketimpangan
sosial yang mungkin mempengaruhi hasil belajar
dan kesempatan pendidikan. Salah satu cara menerapkan konsep dasar
perspektif sosiokultural melalui penggunaan SES adalah dengan memperhatikan perbedaan dalam akses dan kesempatan pendidikan antara siswa dari
latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Dalam konteks ini, sekolah dapat
mengidentifikasi siswa yang berasal dari keluarga dengan SES rendah dan
memberikan dukungan tambahan untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan
yang sama dalam pendidikan.
Misalnya,
sekolah dapat menyediakan beasiswa atau bantuan keuangan bagi siswa dari
keluarga dengan SES rendah untuk memastikan mereka dapat mengakses pendidikan
yang berkualitas. Selain itu, sekolah juga dapat menyediakan program bimbingan
dan mentoring khusus untuk siswa dengan SES rendah, yang bertujuan untuk
membantu mereka mengatasi hambatan sosial dan ekonomi yang mungkin mempengaruhi
kemampuan belajar mereka. Selain itu, penggunaan SES dalam konteks pendidikan
juga dapat membantu sekolah dalam merancang kurikulum yang relevan dengan latar
belakang sosial dan ekonomi siswa. Dengan memahami konteks sosial dan ekonomi
siswa, sekolah dapat mengintegrasikan materi pembelajaran yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari siswa,
sehingga siswa dapat melihat
keterkaitan antara apa yang mereka pelajari di sekolah dengan kehidupan nyata
mereka.
Koneksi Antar Materi
Apa yang Anda pelajari
dari koneksi antar
materi baik di dalam mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain?
Dari koneksi
antar materi yang saya pelajari,
saya belajar untuk mencari hubungan
yang dapat saya satukan
antara mata kuliah
perspektif sosiokultural dalam pendidikan dengan mata kuliah lainnya. Sebagai contoh, koneksi
antara mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia dengan mata kuliah perspektif
sosio kultural dalam pendidikan terkait dengan pemahaman kodrat manusia dalam
mewujudkan pendidikan yang berpihak pada peserta didik dan membebaskan peserta didik.
Hal ini didasarkan pada pemahaman pendidikan berdasarkan pemikiran
filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara serta penerapan Sistem Ekonomi
Sosial (SES) pada peserta didik sebagai mediasi untuk meningkatkan motivasi,
sikap, dan tujuan peserta didik. Selanjutnya, koneksi dengan mata kuliah
Prinsip Pengajaran dan Asesmen terkait dengan pemahaman bagaimana pendidik
dapat memberikan pengajaran terbaik yang berpihak pada peserta didik serta
menentukan asesmen yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang peserta
didik yang dapat diukur dengan memperhatikan faktor sosial, ekonomi, budaya,
dan politik. Saya juga mencoba membuat
koneksi dengan mata kuliah lainnya
untuk mendapatkan pemahaman
yang terhubung antara mata kuliah perspektif sosiokultural dengan mata kuliah lainnya.
Koneksi dengan Pemahaman tentang Peserta Didik
Perspektif sosiokultural menekankan bahwa peserta
didik adalah bagian dari komunitas
sosial yang beragam. Perbedaan sosial, budaya, dan ekonomi memengaruhi
gaya belajar dan akses pendidikan mereka. Guru harus menerapkan strategi yang
inklusif, seperti differentiated instruction, agar pembelajaran lebih adil dan
sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Koneksi dengan Prinsip Dasar Asesmen
Asesmen harus
mempertimbangkan latar belakang
sosial dan budaya siswa agar lebih relevan dan adil. Asesmen formatif
digunakan untuk memahami
perkembangan siswa dalam konteks sosialnya, sedangkan asesmen sumatif
harus fleksibel dan berbasis pengalaman. Konsep Zona
Perkembangan Proksimal (ZPD) membantu guru menilai sejauh mana siswa berkembang
dengan bimbingan yang tepat.
Koneksi dengan
Filosofi Pendidikan
Pendidikan
berperan sebagai alat transformasi sosial yang meningkatkan kesadaran kritis
peserta didik terhadap realitas sosialnya
(Paulo Freire). Guru bertindak sebagai
fasilitator yang mendorong interaksi
sosial dan refleksi, serta menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman untuk menghubungkan teori
dengan kehidupan nyata.
Koneksi dengan
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
PSE
membantu siswa mengembangkan empati, keterampilan sosial, dan regulasi diri.
Guru dapat menerapkan strategi seperti diskusi kelompok, simulasi, dan
pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan interaksi sosial. Menciptakan
lingkungan belajar yang aman dan inklusif juga penting untuk mendukung
kesejahteraan emosional siswa.
Dalam
pembelajaran perspektif sosiokultural, pemahaman terhadap peserta didik menjadi
aspek penting karena mereka merupakan bagian dari komunitas sosial yang
beragam, dengan latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang memengaruhi
gaya belajar serta akses terhadap pendidikan. Oleh karena itu, guru harus
menerapkan pendekatan yang inklusif, seperti pembelajaran berdiferensiasi,
agar setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang setara. Selain itu,
prinsip dasar asesmen juga harus mempertimbangkan konteks sosial dan budaya
peserta didik agar lebih relevan dan berkeadilan. Asesmen formatif digunakan
untuk memahami perkembangan siswa dalam lingkungan sosialnya, sementara asesmen
sumatif harus fleksibel dan berbasis pengalaman nyata. Dalam hal ini, Konsep Zona
Perkembangan Proksimal (ZPD) sangat penting untuk membantu guru menilai sejauh
mana peserta didik berkembang ketika mendapat bimbingan. Keterkaitan dengan
Filosofi Pendidikan juga tidak dapat diabaikan, di mana pendidikan berperan
dalam membentuk kesadaran kritis siswa terhadap realitas sosialnya, sebagaimana
dijelaskan oleh Paulo Freire. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong
interaksi sosial, refleksi mendalam, serta penerapan pembelajaran berbasis
pengalaman untuk menghubungkan teori dengan kehidupan nyata. Selain itu,
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) menjadi elemen
penting dalam membangun
empati, keterampilan sosial, dan regulasi diri siswa, yang dapat
diterapkan melalui diskusi kelompok, simulasi, serta proyek kolaboratif.
Lingkungan belajar yang aman dan inklusif juga menjadi faktor kunci dalam
mendukung kesejahteraan emosional siswa. Lebih lanjut, perspektif sosiokultural
ini berkaitan erat dengan Filosofi Pendidikan Indonesia, terutama dalam
memahami kodrat manusia dalam pendidikan yang berpihak kepada peserta didik dan
membebaskan mereka, seperti yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Konsep ini
juga terkait dengan Sistem Ekonomi Sosial (SES), yang dapat digunakan sebagai
mediasi untuk meningkatkan motivasi, sikap, dan tujuan belajar siswa. Dalam
Prinsip Pengajaran dan Asesmen, perspektif sosiokultural membantu guru dalam merancang metode pengajaran
yang responsif serta menentukan asesmen yang sesuai dengan latar belakang
siswa, dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang
memengaruhi pengalaman belajar mereka.
Dengan menghubungkan berbagai
aspek ini, pemahaman terhadap perspektif sosiokultural semakin memperkaya strategi
pembelajaran dan asesmen yang lebih inklusif, sehingga dapat menciptakan
pendidikan yang adil dan berpihak pada peserta didik.
Aksi Nyata
Apa manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan Anda sebagai
guru?
Terdapat
banyak manfaat dari pembelajaran perspektif sosiokultural dalam pendidikan di
Indonesia bagi kesiapan
saya sebagai seorang
guru. Salah satunya
adalah dengan mempelajari mata kuliah perspektif sosiokultural, saya dapat memahami
konsep dasar mengenai
perspektif sosiokultural dalam pendidikan dan mencoba menerapkannya
dalam praktik mengajar. Saya yakin bahwa materi ini akan menjadi bekal yang
sangat berguna bagi saya di masa depan. Selain
itu, setiap fase pembelajaran dengan
alur MERDEKA juga telah meningkatkan wawasan saya. Diskusi yang terjadi di kelas juga memberikan
kesempatan bagi kami untuk saling bertukar pendapat dan mendapatkan
gagasan dari sudut pandang
yang berbeda. Hal ini sangat
membantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis
saya. Selain itu, koneksi
antara materi yang diajarkan
dan aksi nyata juga membuat saya
berpikir secara kritis. Saya mencoba
mencari koneksi antara mata kuliah perspektif sosiokultural dengan mata kuliah
lainnya sehingga saya dapat mengintegrasikan semua ilmu yang saya pelajari dari
pembelajaran perkuliahan PPG Prajabatan.
Secara
keseluruhan, pembelajaran perspektif sosiokultural dalam pendidikan telah
memberikan banyak manfaat
bagi kesiapan saya sebagai seorang
guru. Saya yakin bahwa ilmu yang saya peroleh dari mata kuliah
ini akan sangat
berguna dalam karir mengajar saya di masa depan.
Bagaimana Anda menilai
kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10? Apa alasannya?
Saat
ini, saya menilai kesiapan saya sebesar 8 dalam skala yang telah ditentukan. Alasannya adalah karena saya telah
menguasai banyak materi dari perspektif sosiokultural dan juga dari mata kuliah
lainnya. Saya yakin bahwa pengetahuan ini akan sangat bermanfaat untuk
pengembangan pemahaman saya dan dapat saya aplikasikan dalam pembelajaran.
Namun, kekurangan yang saya miliki adalah
kurangnya pengalaman dalam
mengimplementasikan dan
menerapkan ilmu yang telah saya pelajari.
Apa yang perlu
Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?
Untuk
dapat menerapkan SES dalam sistem pendidikan secara optimal, saya perlu
mempersiapkan beberapa hal sebagai berikut:
·
Data dan informasi yang akurat
mengenai status ekonomi sosial siswa: saya perlu mengumpulkan data dan
informasi yang akurat mengenai status ekonomi sosial siswa,
seperti tingkat pendapatan, pekerjaan orang tua, dan kondisi rumah tangga. Data
ini akan membantu saya dalam menentukan program dan kebijakan yang sesuai untuk
mendukung siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda.
·
Program dan kebijakan yang
inklusif: saya perlu merancang program dan kebijakan yang inklusif untuk
mendukung siswa dari berbagai latar belakang ekonomi. Program ini dapat berupa bantuan
finansial, beasiswa, atau program mentoring untuk siswa yang membutuhkan.
·
Pelatihan dan dukungan bagi guru
dan staf sekolah: saya perlu memberikan pelatihan dan dukungan bagi guru dan staf sekolah agar mereka dapat memahami dan mengatasi
tantangan yang dihadapi oleh siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda.
Guru
dan staf sekolah
juga perlu dilengkapi dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memberikan dukungan
yang tepat kepada siswa.
·
Kolaborasi dengan berbagai pihak
terkait: saya perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait, seperti
orang tua siswa, lembaga pemerintah, dan organisasi non-pemerintah, untuk
mendukung implementasi SES dalam sistem pendidikan. Kolaborasi ini akan
memperkuat upaya saya dalam memberikan dukungan yang komprehensif bagi siswa
dari latar belakang ekonomi yang berbeda.
Pembelajaran
Konsep Dasar Sosiokultural bermanfaat bagi kesiapan saya sebagai guru. Saat
hendak melaksanakan pembelajaran, saya perlu mengidentifikasi masing-masing
siswa sesuai dengan faktor sosiokultural yang dimilikinya. Dengan mengetahui
hal tersebut, saya dapat merencanakan pembelajaran dan menentukan pendekatan serta model
pembelajaran dan asesmen apa yang tepat untuk masing-masing siswa tersebut
maupun untuk satu kelas agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Jika
ditanyakan mengenai kesiapan saya, saya berada pada point 8 karena saat ini
saya sedang mempelajari teorinya dan belum mencoba untuk mempraktekkannya di
kelas. Saya perlu mempersiapkan diri dengan terus belajar dan mencari referensi
mengenai pembelajaran yang didasari oleh konsep sosiokultural, agar saat
waktunya tiba untuk melakukan pembelajaran, saya dapat melaksanakan
pembelajaran dengan baik dan siswa dapat menerima sesuai dengan kodratnya
masing-masing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar