Sabtu, 10 Mei 2025

Topik 2. Konsep Dasar Perspektif Sosio Kultural dalam Pendidikan Mata Kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia

 Nama              : Yeni Dwi Arista

NIM                : 241012300384

Tugas              : T2.8 Aksi Nyata

Mata Kuliah    : Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia

Intruksi            :

Pada akhir pembelajaran setiap topik, Anda diminta untuk merefleksikan pembelajaran dalam blog masing-masing, dengan menggunakan alur MERDEKA seperti dalam proses pembelajarannya. Anda bisa menceritakan refleksi Anda dengan caranya masing-masing, bisa narasi yang dilengkapi visual, ataupun narasi saja, atau model kreatif lainnya. Berikut ini panduan pertanyaan yang dapat membantu Anda menuliskan blog

Mulai Dari Diri

Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?

Sebelum memulai proses pembelajaran pada topik 2 mata kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia, saya berpikir bahwa saya hanya akan mempelajari mengenai implementasi perspektif sosiokultural dalam pendidikan di Indonesia. Namun, setelah mempelajari fase awal, saya tidak hanya mempelajari tentang implementasi perspektif sosiokultural dalam pendidikan, tetapi juga belajar tentang konsep dasar perspektif sosiokultural. Selain itu, saya juga menganalisis penerapan konsep dasar perspektif sosiokultural dalam pendidikan serta pentingnya faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran.

Eksplorasi Konsep

Apa yang Anda pelajari dari konsep dalam topik ini?

Dalam fase eksplorasi konsep ini, saya juga memperoleh pemahaman tentang pentingnya konteks sosial dalam pendidikan. Saya belajar bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial di luar sekolah. Saya menyadari bahwa perbedaan sosial, seperti status ekonomi, budaya, dan politik, dapat memengaruhi akses dan kualitas pendidikan yang diterima oleh peserta didik. Selain itu, saya juga mempelajari tentang pentingnya memahami sejarah dan budaya dalam pendidikan. Dengan memahami konteks budaya-historis, saya dapat mengenali pengaruh-pengaruh yang telah membentuk sistem pendidikan saat ini. Saya juga belajar bahwa pendidikan tidak hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk identitas dan memperkuat nilai-nilai budaya.

Dalam mempelajari Cultural-Historical Activity Theory (CHAT), saya menyadari bahwa pikiran dan aktivitas peserta didik saling terkait dan saling mempengaruhi. Saya belajar bahwa pendidikan harus melibatkan peserta didik secara aktif dalam aktivitas yang relevan dan bermakna bagi mereka. Dengan memahami hubungan ini, saya dapat merancang pengajaran yang lebih efektif dan relevan bagi peserta didik. Secara keseluruhan, fase eksplorasi konsep ini telah memberikan pemahaman yang mendalam tentang perspektif sosiokultural dalam pendidikan. Saya merasa lebih siap dan percaya diri dalam menjalankan peran sebagai seorang pendidik di masa depan, karena saya memiliki pemahaman yang lebih luas tentang faktor- faktor sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang memengaruhi pendidikan peserta didik. Saya juga memiliki alat analisis, seperti analisis budaya-historis dan Cultural-Historical Activity Theory (CHAT), yang akan membantu saya dalam merancang pengajaran yang sesuai dan mendukung peserta didik.

 

 

 

Ruang Kolaborasi

Apa yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang kolaborasi?

Saya dan rekan-rekan saya telah mempelajari lebih lanjut dalam ruang kolaborasi. Kami melakukan diskusi dan analisis terhadap studi kasus yang ada di LMS. Kami saling bertukar pendapat dan menambah wawasan mengenai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi pendidikan dari video dewi dan putri : Ketimpangan di Indonesia memisahkan dua anak permpuan, Rantai keluarga miskin, kemiskinan picu ketimpangan pendapat dan Bagaimana upaya guru memperhatikan siswa berlatar bstatus sosial ekonomi rendah di Sekolah dasar. Ketiga cerita tersebut memiliki latar belakang dan permasalahan yang berbeda- beda. Melalui ruang kolaborasi ini, kami memahami bagaimana guru atau pendidik dapat mempertimbangkan perspektif sosiokultural dalam metode pengajaran. Kami juga menyadari pentingnya mengembangkan kreativitas untuk memberikan motivasi dan semangat kepada peserta didik dalam proses pendidikan.

Kami juga belajar bahwa pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan akademis, tetapi juga tentang pengembangan karakter, keterampilan sosial, dan pemahaman tentang dunia yang lebih luas. Dengan bekerja sama dan saling mendukung, kami yakin bahwa kami dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berdaya bagi semua peserta didik. Melalui kolaborasi ini, kami merasa lebih siap dan termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan kami.

Demonstrasi Kontekstual

Apa hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)?

Hal yang penting yang saya pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang saya jalani bersama kelompok adalah sebagai berikut: Pertama, terkait materi, saya belajar bahwa seorang pendidik harus siap menghadapi berbagai permasalahan yang mungkin timbul saat mengajar. Setiap peserta didik memiliki karakteristik dan latar belakang yang berbeda, sehingga seorang pendidik harus mampu menganalisis perspektif sosiokultural dari peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang ada. Selain itu, saya juga belajar bahwa seorang pendidik harus memiliki semangat, ketulusan, dan keikhlasan dalam mendidik generasi penerus bangsa. Jika dihadapkan dengan peserta didik yang mengalami masalah seperti tidak ingin bersekolah, pendidik harus mampu memberikan motivasi agar peserta didik mau belajar kembali.

Kedua, terkait rekan, saya belajar banyak hal baru dari fase ruang kolaborasi. Kami membagi tugas dalam menganalisis cerita, kemudian mengadakan forum diskusi untuk saling bertukar pendapat dan menambah wawasan dengan sudut pandang yang berbeda.

Ketiga, terkait diri sendiri, saya banyak berlatih menyampaikan pendapat dan gagasan dari hasil analisis cerita yang saya baca. Saya juga mendapatkan banyak ilmu pengetahuan melalui diskusi dengan kelompok saya, yang semakin menambah wawasan dan semangat dalam mengajar serta menjalankan tugas sebagai seorang pendidik.

 

 

 

 

Elaborasi Pemahaman

Sejauh ini, apa yang sudah Anda pahami tentang topik ini?

Pengetahuan saya tentang topik ini mencakup pemahaman mendalam tentang konsep dasar dari sudut pandang sosiokultural dalam pendidikan. Saya memahami bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada aspek akademik, tetapi juga harus mempertimbangkan faktor-faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi peserta didik.

Dalam merancang strategi pembelajaran, saya selalu mengutamakan kepentingan peserta didik. Saya memahami bahwa setiap peserta didik memiliki latar belakang sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, saya berusaha untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memperhatikan keberagaman peserta didik.

Saya juga memahami bahwa faktor- faktor sosial, budaya, ekonomi dan politik dapat mempengaruhi motivasi, minat dan kemampuan belajar peserrta didik. oleh karena itu saya berusaha untuk mengidentifikasi dan memahami faktor- faktor ini agar dapat merancang strategi pembelajaran yang relevan dan efektif

Selain itu saya juga memahami bahwa Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, budaya, ekonomi dan politik yang ada. Saya menyadari bahwa kebijakan Pendidikan, system Pendidikan dan struktur sosial dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Oleh karena itu saya berusaha untuk memahami dan mengkaji faktor- faktor ini agar dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan konteks yang ada. Dalam merancang pembelajaran saya juga memperhatikan kepentingan peserta didik. saya berusaha untuk menciptakkan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan memperhatikan keberagaman peserta didik. saya juga berusaha untuk membangun hubungan yang baik dengan peserta didik sehingga mereka meraa nyaman dan termotivasi untuk belajar.

Apa hal baru yang Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum pembelajaran dimulai?

Saya awalnya berpikir bahwa pendidikan yang diberikan oleh guru sudah cukup memberikan dampak positif bagi peserta didik. Namun, setelah mempelajari perspektif sosiokultural topik 2 ini, saya mendapatkan pemahaman baru tentang Status Sosial Ekonomi (SES) dan variasi interaksi antara orang dewasa dan anak dalam konteks pendidikan. Interaksi antara orang tua dan peserta didik dapat menjadi mediasi antara guru dan peserta didik dalam meningkatkan motivasi, sikap, dan tujuan belajar peserta didik.

Apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?

Saya tertarik untuk memahami lebih dalam mengenai cara-cara menerapkan konsep dasar perspektif sosiokultural dalam dunia pendidikan melalui penggunaan status sosial ekonomi (SES) di lingkungan sekolah atau contoh konkretnya dalam konteks pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, konsep dasar perspektif sosiokultural dapat diterapkan melalui penggunaan status sosial ekonomi (SES) di lingkungan sekolah. SES merujuk pada posisi sosial dan ekonomi seseorang dalam masyarakat, yang mencakup pendapatan, pekerjaan, pendidikan, dan aset lainnya. Penggunaan SES dalam konteks pendidikan bertujuan untuk memahami dan mengatasi ketimpangan sosial yang mungkin mempengaruhi hasil belajar dan kesempatan pendidikan. Salah satu cara menerapkan konsep dasar perspektif sosiokultural melalui penggunaan SES adalah dengan memperhatikan perbedaan dalam akses dan kesempatan pendidikan antara siswa dari latar belakang sosial ekonomi yang berbeda. Dalam konteks ini, sekolah dapat mengidentifikasi siswa yang berasal dari keluarga dengan SES rendah dan memberikan dukungan tambahan untuk memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan.

Misalnya, sekolah dapat menyediakan beasiswa atau bantuan keuangan bagi siswa dari keluarga dengan SES rendah untuk memastikan mereka dapat mengakses pendidikan yang berkualitas. Selain itu, sekolah juga dapat menyediakan program bimbingan dan mentoring khusus untuk siswa dengan SES rendah, yang bertujuan untuk membantu mereka mengatasi hambatan sosial dan ekonomi yang mungkin mempengaruhi kemampuan belajar mereka. Selain itu, penggunaan SES dalam konteks pendidikan juga dapat membantu sekolah dalam merancang kurikulum yang relevan dengan latar belakang sosial dan ekonomi siswa. Dengan memahami konteks sosial dan ekonomi siswa, sekolah dapat mengintegrasikan materi pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga siswa dapat melihat keterkaitan antara apa yang mereka pelajari di sekolah dengan kehidupan nyata mereka.

 

Koneksi Antar Materi

Apa yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik di dalam mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain?

Dari koneksi antar materi yang saya pelajari, saya belajar untuk mencari hubungan yang dapat saya satukan antara mata kuliah perspektif sosiokultural dalam pendidikan dengan mata kuliah lainnya. Sebagai contoh, koneksi antara mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia dengan mata kuliah perspektif sosio kultural dalam pendidikan terkait dengan pemahaman kodrat manusia dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak pada peserta didik dan membebaskan peserta didik. Hal ini didasarkan pada pemahaman pendidikan berdasarkan pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara serta penerapan Sistem Ekonomi Sosial (SES) pada peserta didik sebagai mediasi untuk meningkatkan motivasi, sikap, dan tujuan peserta didik. Selanjutnya, koneksi dengan mata kuliah Prinsip Pengajaran dan Asesmen terkait dengan pemahaman bagaimana pendidik dapat memberikan pengajaran terbaik yang berpihak pada peserta didik serta menentukan asesmen yang sesuai dengan karakteristik dan latar belakang peserta didik yang dapat diukur dengan memperhatikan faktor sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Saya juga mencoba membuat koneksi dengan mata kuliah lainnya untuk mendapatkan pemahaman yang terhubung antara mata kuliah perspektif sosiokultural dengan mata kuliah lainnya.

 

Koneksi dengan Pemahaman tentang Peserta Didik

Perspektif sosiokultural menekankan bahwa peserta didik adalah bagian dari komunitas sosial yang beragam. Perbedaan sosial, budaya, dan ekonomi memengaruhi gaya belajar dan akses pendidikan mereka. Guru harus menerapkan strategi yang inklusif, seperti differentiated instruction, agar pembelajaran lebih adil dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.

Koneksi dengan Prinsip Dasar Asesmen

Asesmen harus mempertimbangkan latar belakang sosial dan budaya siswa agar lebih relevan dan adil. Asesmen formatif digunakan untuk memahami perkembangan siswa dalam konteks sosialnya, sedangkan asesmen sumatif harus fleksibel dan berbasis pengalaman. Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) membantu guru menilai sejauh mana siswa berkembang dengan bimbingan yang tepat.

Koneksi dengan Filosofi Pendidikan

Pendidikan berperan sebagai alat transformasi sosial yang meningkatkan kesadaran kritis peserta didik terhadap realitas sosialnya (Paulo Freire). Guru bertindak sebagai fasilitator yang mendorong interaksi sosial dan refleksi, serta menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman untuk menghubungkan teori dengan kehidupan nyata.

Koneksi dengan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

PSE membantu siswa mengembangkan empati, keterampilan sosial, dan regulasi diri. Guru dapat menerapkan strategi seperti diskusi kelompok, simulasi, dan pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan interaksi sosial. Menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif juga penting untuk mendukung kesejahteraan emosional siswa.

Dalam pembelajaran perspektif sosiokultural, pemahaman terhadap peserta didik menjadi aspek penting karena mereka merupakan bagian dari komunitas sosial yang beragam, dengan latar belakang sosial, budaya, dan ekonomi yang memengaruhi gaya belajar serta akses terhadap pendidikan. Oleh karena itu, guru harus menerapkan pendekatan yang inklusif, seperti pembelajaran berdiferensiasi, agar setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang setara. Selain itu, prinsip dasar asesmen juga harus mempertimbangkan konteks sosial dan budaya peserta didik agar lebih relevan dan berkeadilan. Asesmen formatif digunakan untuk memahami perkembangan siswa dalam lingkungan sosialnya, sementara asesmen sumatif harus fleksibel dan berbasis pengalaman nyata. Dalam hal ini, Konsep Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) sangat penting untuk membantu guru menilai sejauh mana peserta didik berkembang ketika mendapat bimbingan. Keterkaitan dengan Filosofi Pendidikan juga tidak dapat diabaikan, di mana pendidikan berperan dalam membentuk kesadaran kritis siswa terhadap realitas sosialnya, sebagaimana dijelaskan oleh Paulo Freire. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong interaksi sosial, refleksi mendalam, serta penerapan pembelajaran berbasis pengalaman untuk menghubungkan teori dengan kehidupan nyata. Selain itu, Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) menjadi elemen penting dalam membangun empati, keterampilan sosial, dan regulasi diri siswa, yang dapat diterapkan melalui diskusi kelompok, simulasi, serta proyek kolaboratif. Lingkungan belajar yang aman dan inklusif juga menjadi faktor kunci dalam mendukung kesejahteraan emosional siswa. Lebih lanjut, perspektif sosiokultural ini berkaitan erat dengan Filosofi Pendidikan Indonesia, terutama dalam memahami kodrat manusia dalam pendidikan yang berpihak kepada peserta didik dan membebaskan mereka, seperti yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Konsep ini juga terkait dengan Sistem Ekonomi Sosial (SES), yang dapat digunakan sebagai mediasi untuk meningkatkan motivasi, sikap, dan tujuan belajar siswa. Dalam Prinsip Pengajaran dan Asesmen, perspektif sosiokultural membantu guru dalam merancang metode pengajaran yang responsif serta menentukan asesmen yang sesuai dengan latar belakang siswa, dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang memengaruhi pengalaman belajar mereka. Dengan menghubungkan berbagai aspek ini, pemahaman terhadap perspektif sosiokultural semakin memperkaya strategi pembelajaran dan asesmen yang lebih inklusif, sehingga dapat menciptakan pendidikan yang adil dan berpihak pada peserta didik.

 

 

Aksi Nyata

Apa manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan Anda sebagai guru?

Terdapat banyak manfaat dari pembelajaran perspektif sosiokultural dalam pendidikan di Indonesia bagi kesiapan saya sebagai seorang guru. Salah satunya adalah dengan mempelajari mata kuliah perspektif sosiokultural, saya dapat memahami konsep dasar mengenai perspektif sosiokultural dalam pendidikan dan mencoba menerapkannya dalam praktik mengajar. Saya yakin bahwa materi ini akan menjadi bekal yang sangat berguna bagi saya di masa depan. Selain itu, setiap fase pembelajaran dengan alur MERDEKA juga telah meningkatkan wawasan saya. Diskusi yang terjadi di kelas juga memberikan kesempatan bagi kami untuk saling bertukar pendapat dan mendapatkan gagasan dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini sangat membantu dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis saya. Selain itu, koneksi antara materi yang diajarkan dan aksi nyata juga membuat saya berpikir secara kritis. Saya mencoba mencari koneksi antara mata kuliah perspektif sosiokultural dengan mata kuliah lainnya sehingga saya dapat mengintegrasikan semua ilmu yang saya pelajari dari pembelajaran perkuliahan PPG Prajabatan.

Secara keseluruhan, pembelajaran perspektif sosiokultural dalam pendidikan telah memberikan banyak manfaat bagi kesiapan saya sebagai seorang guru. Saya yakin bahwa ilmu yang saya peroleh dari mata kuliah ini akan sangat berguna dalam karir mengajar saya di masa depan.

Bagaimana Anda menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10? Apa alasannya?

Saat ini, saya menilai kesiapan saya sebesar 8 dalam skala yang telah ditentukan. Alasannya adalah karena saya telah menguasai banyak materi dari perspektif sosiokultural dan juga dari mata kuliah lainnya. Saya yakin bahwa pengetahuan ini akan sangat bermanfaat untuk pengembangan pemahaman saya dan dapat saya aplikasikan dalam pembelajaran. Namun, kekurangan yang saya miliki adalah kurangnya pengalaman dalam mengimplementasikan dan menerapkan ilmu yang telah saya pelajari.

Apa yang perlu Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?

Untuk dapat menerapkan SES dalam sistem pendidikan secara optimal, saya perlu mempersiapkan beberapa hal sebagai berikut:

·       Data dan informasi yang akurat mengenai status ekonomi sosial siswa: saya perlu mengumpulkan data dan informasi yang akurat mengenai status ekonomi sosial siswa, seperti tingkat pendapatan, pekerjaan orang tua, dan kondisi rumah tangga. Data ini akan membantu saya dalam menentukan program dan kebijakan yang sesuai untuk mendukung siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda.

·       Program dan kebijakan yang inklusif: saya perlu merancang program dan kebijakan yang inklusif untuk mendukung siswa dari berbagai latar belakang ekonomi. Program ini dapat berupa bantuan finansial, beasiswa, atau program mentoring untuk siswa yang membutuhkan.

·       Pelatihan dan dukungan bagi guru dan staf sekolah: saya perlu memberikan pelatihan dan dukungan bagi guru dan staf sekolah agar mereka dapat memahami dan mengatasi tantangan yang dihadapi oleh siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda. Guru

dan staf sekolah juga perlu dilengkapi dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memberikan dukungan yang tepat kepada siswa.

·       Kolaborasi dengan berbagai pihak terkait: saya perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait, seperti orang tua siswa, lembaga pemerintah, dan organisasi non-pemerintah, untuk mendukung implementasi SES dalam sistem pendidikan. Kolaborasi ini akan memperkuat upaya saya dalam memberikan dukungan yang komprehensif bagi siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda.

Pembelajaran Konsep Dasar Sosiokultural bermanfaat bagi kesiapan saya sebagai guru. Saat hendak melaksanakan pembelajaran, saya perlu mengidentifikasi masing-masing siswa sesuai dengan faktor sosiokultural yang dimilikinya. Dengan mengetahui hal tersebut, saya dapat merencanakan pembelajaran dan menentukan pendekatan serta model pembelajaran dan asesmen apa yang tepat untuk masing-masing siswa tersebut maupun untuk satu kelas agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Jika ditanyakan mengenai kesiapan saya, saya berada pada point 8 karena saat ini saya sedang mempelajari teorinya dan belum mencoba untuk mempraktekkannya di kelas. Saya perlu mempersiapkan diri dengan terus belajar dan mencari referensi mengenai pembelajaran yang didasari oleh konsep sosiokultural, agar saat waktunya tiba untuk melakukan pembelajaran, saya dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik dan siswa dapat menerima sesuai dengan kodratnya masing-masing

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages - Menu