Jumat, 09 Mei 2025

T5.8 AKSI NYATA 5 “Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD”

 

No.

Alur pembelajaran

Pertanyaan Refleksi

1

Mulai Dari Diri

Apa yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran?

Sebelum memulai proses pembelajaran mengenai topik 5 “Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD”, saya membayangkan bahwa pembelajaran hanyalah proses transfer pengetahuan dari guru ke siswa secara satu arah. Saya berpikir bahwa peran guru sangat dominan, sementara siswa hanya menerima dan meniru apa yang diajarkan. Namun, setelah memahami materi ini, saya menyadari bahwa proses pembelajaran yang efektif justru terjadi melalui interaksi dan kolaborasi antara guru dan siswa, serta antar teman sebaya. Konsep scaffolding dalam Zone of Proximal Development (ZPD) membuka wawasan saya bahwa bantuan yang diberikan guru atau teman sebaya bersifat sementara dan sangat spesifik, bertujuan untuk mendorong siswa agar mampu mengatasi tantangan yang sedikit di atas kemampuannya saat ini. Saya juga menjadi paham bahwa pembelajaran yang baik harus mampu menumbuhkan kemandirian secara bertahap melalui pemberian dukungan yang terstruktur, seperti memberikan petunjuk, contoh, pertanyaan pemantik, maupun instruksi yang tepat sesuai kebutuhan siswa. Dengan demikian, saya mulai melihat bahwa pembelajaran bukan hanya soal menghafal atau meniru, tetapi juga melibatkan proses berpikir kritis, refleksi, dan pengembangan kemampuan secara bertahap hingga siswa benar-benar mampu belajar mandiri. Pemahaman ini membuat saya lebih menghargai pentingnya interaksi sosial, kolaborasi, dan peran aktif siswa dalam proses belajar, serta menempatkan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa mencapai potensi terbaiknya.

2

Eksplorasi Konsep

Apa yang Anda pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini?

Dari konsep yang saya pelajari dalam topik “Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD”, saya semakin memahami pentingnya peran interaksi antara guru, orang tua, dan teman sebaya dalam mendukung perkembangan belajar anak. Scaffolding bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi lebih pada proses pendampingan yang bertahap dan terstruktur, di mana anak didorong untuk meniru, bereksplorasi, dan akhirnya mandiri dalam menyelesaikan masalah. Proses ini menekankan bahwa kemandirian anak tidak berarti tanpa bantuan, melainkan dicapai melalui interaksi yang saling mendukung dan kolaboratif. Saya juga belajar bahwa bantuan yang diberikan harus bersifat sementara dan spesifik, disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan anak, sehingga anak dapat melampaui batas kemampuannya sendiri.

Selain itu, strategi scaffolding sangat beragam, mulai dari pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, contoh, hingga pertanyaan pemantik. Semua strategi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan metakognitif, kognitif, dan motivasi anak. Saya juga menyadari bahwa dalam proses scaffolding, guru atau orang tua perlu memonitor dan mengontrol tingkat kesulitan tugas, menjaga arah pembelajaran, serta memberikan ruang bagi anak untuk berefleksi dan mengevaluasi kemajuan mereka. Kolaborasi dengan teman sebaya juga sangat penting karena dapat memperkaya sudut pandang dan membantu anak belajar menyelesaikan perbedaan pendapat secara konstruktif.

Dari segi teori, saya belajar bahwa proses scaffolding berjalan secara bertahap, dimulai dari asistensi penuh oleh orang dewasa, kemudian secara perlahan tanggung jawab berpindah ke anak hingga akhirnya anak mampu mandiri. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menjadi inti dari proses ini, di mana anak belajar paling efektif ketika mendapatkan bantuan yang tepat pada saat mereka belum sepenuhnya mampu melakukan tugas secara mandiri. Secara keseluruhan, pembelajaran tentang scaffolding pada ZPD memperkaya pemahaman saya tentang bagaimana proses belajar yang ideal terjadi, yaitu melalui interaksi sosial yang dinamis, kolaboratif, dan penuh empati, sehingga anak dapat berkembang secara optimal baik secara kognitif maupun sosial-emosional.

3

Ruang Kolaborasi

 

Apa yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang kolaborasi?

Dalam ruang kolaborasi bersama rekan-rekan, saya mempelajari bahwa pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan sebagai scaffolding pada Zone of Proximal Development (ZPD) sangat penting untuk mengakomodasi perbedaan kompetensi siswa di kelas. Dari diskusi kasus nyata tentang kesulitan belajar siswa, kami menemukan bahwa memang terdapat perbedaan kompetensi yang cukup signifikan di antara siswa. Siswa dengan kompetensi rendah umumnya memiliki pemahaman yang masih dangkal dan seringkali mengalami kebingungan dalam mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi baru. Kolaborasi antar siswa, seperti melalui tugas kelompok atau diskusi teman sebaya, ternyata sangat membantu siswa dengan kompetensi rendah, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada pembagian peran dan keterlibatan aktif semua anggota kelompok. Kami juga mendiskusikan pentingnya peran guru dalam memberikan bantuan individual, seperti tugas tambahan, perubahan posisi duduk, atau penggunaan strategi scaffolding lain yang bersifat temporer dan spesifik sesuai kebutuhan siswa. Strategi ini terbukti efektif jika dilakukan secara konsisten dan reflektif, karena dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian siswa secara bertahap. Dari proses kolaborasi ini, saya semakin memahami bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya bergantung pada satu metode saja, tetapi pada sinergi antara pendekatan yang adaptif, kolaborasi antar siswa, dan intervensi guru yang terencana dengan baik sesuai dengan prinsip scaffolding dalam ZPD. Kolaborasi juga memperkaya sudut pandang dan solusi yang dapat diterapkan, sehingga setiap siswa dapat berkembang sesuai potensi maksimalnya

4

Demonstrasi Kontekstual

Apa hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)?

Hal penting yang saya pelajari dari proses demonstrasi kontekstual bersama kelompok adalah bahwa pembelajaran yang efektif sangat bergantung pada interaksi, kolaborasi, dan pemberian bantuan yang tepat sesuai kebutuhan anggota kelompok. Materi tentang scaffolding dalam Zone of Proximal Development (ZPD) menekankan bahwa bantuan dari orang dewasa atau teman sebaya tidak hanya sekadar memberikan solusi, tetapi juga mendorong setiap individu untuk berani mengambil tantangan baru, berpikir kritis, dan mengembangkan sudut pandang sendiri. Melalui diskusi kelompok, saya menyadari bahwa setiap anggota memiliki latar belakang pengetahuan dan cara berpikir yang berbeda, sehingga penting untuk saling mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mencari titik temu dalam menyelesaikan tugas. Saya juga belajar bahwa proses scaffolding harus fleksibel, mulai dari pemberian petunjuk, saran, hingga modeling, dan secara bertahap dikurangi seiring meningkatnya kemandirian anggota kelompok. Dari sisi pribadi, pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih terbuka terhadap kritik dan masukan, serta pentingnya refleksi diri dalam proses belajar. Secara keseluruhan, demonstrasi ini memperkuat pemahaman saya bahwa keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh kualitas interaksi, komunikasi, dan strategi scaffolding yang diterapkan dalam kelompok.

5

Elaborasi Pemahaman

  • Sejauh ini, apa yang sudah Anda pahami tentang topik ini?

Setelah mempelajari materi tentang “Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD (Zone of Proximal Development)”, saya memahami bahwa inti dari scaffolding adalah proses pendampingan yang bersifat sementara dan terstruktur, yang diberikan oleh guru, orang tua, atau teman sebaya kepada anak dalam proses belajar. Pendekatan ini sangat menekankan pentingnya interaksi sosial dalam pembelajaran, di mana anak tidak hanya sekadar meniru, tetapi juga diajak untuk berpikir kritis, mengemukakan pendapat, dan berani mengambil tantangan yang lebih tinggi sesuai dengan perkembangan kemampuannya. Dalam praktiknya, scaffolding mengakomodasi kebutuhan anak melalui berbagai strategi, seperti pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, contoh, dan pertanyaan pemantik. Strategi ini dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran, apakah untuk mengembangkan kemampuan metakognitif, kognitif, atau motivasi anak. Proses ini juga melibatkan penyesuaian tingkat kesulitan tugas agar anak tetap termotivasi dan tidak merasa frustasi, serta monitoring dan refleksi terhadap capaian pembelajaran.

Saya juga memahami bahwa scaffolding tidak hanya terjadi antara guru dan siswa, tetapi juga bisa melalui kolaborasi dengan teman sebaya. Kolaborasi ini memungkinkan anak untuk melihat berbagai sudut pandang dan belajar berkoordinasi dalam menyelesaikan perbedaan pendapat. Selain itu, proses scaffolding berlangsung secara bertahap, mulai dari bantuan penuh hingga akhirnya anak mampu mandiri dan bantuan dapat dilepaskan. Secara keseluruhan, pendekatan scaffolding pada ZPD menegaskan bahwa kemandirian anak dalam belajar bukan berarti tanpa bantuan, melainkan hasil dari proses interaksi dan pendampingan yang terstruktur, sehingga anak dapat melampaui batas kemampuannya sendiri dan berkembang secara optimal, baik secara kognitif, metakognitif, maupun afektif.

  • Apa hal baru yang Anda pahami atau yang berubah dari pemahaman di awal sebelum pembelajaran dimulai ?

Setelah mempelajari materi tentang “Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD”, saya mengalami perubahan pemahaman yang cukup signifikan dibandingkan sebelum pembelajaran dimulai. Awalnya, saya mengira scaffolding hanyalah bantuan sementara yang diberikan guru kepada siswa agar mereka bisa memahami materi yang sulit, dan setelah itu bantuan tersebut dihilangkan. Namun, setelah mendalami materi ini, saya memahami bahwa scaffolding jauh lebih kompleks dan dinamis. Scaffolding tidak sekadar memberi bantuan, tetapi juga melibatkan interaksi sosial yang intens antara guru, orang tua, dan teman sebaya, di mana proses imitasi, dialog kritis, dan kolaborasi menjadi kunci utama. Saya juga baru memahami bahwa tujuan utama scaffolding adalah membantu anak melampaui kemampuan awalnya melalui proses bertahap yang menekankan kemandirian, namun tetap dalam konteks interaksi sosial yang mendukung. Selain itu, saya kini mengerti bahwa strategi scaffolding sangat beragam, mulai dari pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, contoh, hingga pertanyaan pemantik, yang semuanya disesuaikan dengan kebutuhan metakognitif, kognitif, dan afektif anak. Hal baru lainnya adalah pentingnya monitoring, pengendalian tingkat frustrasi, dan pemberian ruang bagi anak untuk bereksplorasi secara mandiri setelah mendapatkan modeling dari orang dewasa. Dengan demikian, pemahaman saya berkembang bahwa scaffolding adalah proses yang sangat terstruktur, kolaboratif, dan menyesuaikan dengan perkembangan anak dalam zona perkembangan proksimal (ZPD), bukan sekadar bantuan sesaat.

  • Apa yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?

Setelah mempelajari materi tentang Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan sebagai Scaffolding pada Zona Proksimal Perkembangan (ZPD), saya merasa semakin memahami pentingnya peran interaksi antara guru, orang tua, dan teman sebaya dalam mendukung perkembangan kognitif dan psikologis anak. Konsep scaffolding menekankan bahwa bantuan yang diberikan harus bersifat temporer dan spesifik, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi anak. Proses ini tidak hanya sekadar meniru, tetapi juga mendorong anak untuk berpikir kritis, mengemukakan pendapat, dan mengambil tantangan yang lebih tinggi secara bertahap hingga akhirnya mampu mandiri. Saya juga belajar bahwa strategi scaffolding sangat beragam, mulai dari pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, model, hingga pertanyaan pemantik, yang semuanya dapat diarahkan untuk mengembangkan kemampuan metakognitif, kognitif, maupun motivasi anak.

Namun, dari materi ini, saya ingin mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana penerapan scaffolding secara konkret di kelas dengan berbagai karakteristik siswa yang berbeda, serta bagaimana guru dapat secara efektif menyesuaikan strategi scaffolding sesuai kebutuhan individu siswa dalam situasi pembelajaran nyata. Saya juga tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang tantangan yang dihadapi guru dalam mengurangi bantuan secara bertahap (fading) tanpa membuat siswa merasa kehilangan dukungan, serta bagaimana kolaborasi antar siswa dapat dioptimalkan sebagai bagian dari scaffolding. Selain itu, saya ingin mengeksplorasi lebih lanjut tentang penggunaan teknologi sebagai media scaffolding modern yang dapat memperkaya pengalaman belajar siswa di era digital saat ini. Dengan memahami aspek-aspek tersebut, saya berharap dapat mengembangkan kemampuan dalam merancang pembelajaran yang benar-benar responsif terhadap kebutuhan dan potensi setiap anak.

6

Koneksi Antar Materi

Apa yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik di dalam mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain?

Dari pembelajaran tentang “Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD”, saya semakin memahami betapa pentingnya keterkaitan antar materi baik di dalam satu mata kuliah maupun dengan mata kuliah lain. Materi ini menyoroti bahwa proses belajar tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada interaksi sosial, kolaborasi, dan pemberian bimbingan yang terstruktur agar peserta didik dapat berkembang secara bertahap menuju kemandirian. Konsep scaffolding dalam ZPD mengajarkan bahwa bantuan yang diberikan guru atau teman sebaya harus sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik, serta dilakukan secara bertahap hingga mereka mampu mandiri. Hal ini sangat berkaitan dengan materi dalam mata kuliah lain seperti Perkembangan Peserta Didik, di mana pemahaman tentang karakteristik dan kebutuhan belajar anak menjadi dasar dalam merancang pembelajaran yang efektif. Selain itu, materi ini juga terhubung dengan mata kuliah Perencanaan dan Asesmen Pembelajaran, karena guru perlu melakukan asesmen diagnostik untuk mengetahui ZPD peserta didik sebelum menentukan strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang tepat.

Keterkaitan dengan mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia juga sangat terasa, terutama dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang “sistem among” yang menekankan pentingnya menuntun peserta didik sesuai kodrat dan potensinya. Di sini, scaffolding menjadi wujud nyata dari filosofi tersebut, di mana guru berperan sebagai penuntun yang penuh kasih sayang dan mampu menyesuaikan bantuan sesuai kebutuhan peserta didik. Selain itu, pengalaman praktik lapangan (PPL) juga menjadi ajang penerapan langsung konsep scaffolding dan ZPD, karena mahasiswa calon guru harus mampu mengidentifikasi kebutuhan siswa dan memberikan bantuan yang efektif agar siswa dapat mencapai potensi maksimalnya. Secara keseluruhan, koneksi antar materi ini memperkuat pemahaman saya bahwa pembelajaran yang efektif harus responsif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik. Guru tidak hanya sebagai pemberi materi, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan pendamping yang mampu membimbing peserta didik melalui tahapan-tahapan perkembangan belajar. Pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang dipilih harus selalu memperhatikan keberagaman karakteristik, latar belakang, serta kebutuhan peserta didik agar proses pembelajaran benar-benar bermakna dan mampu menumbuhkan kemandirian serta keterampilan berpikir kritis. Dengan demikian, pemahaman tentang scaffolding pada ZPD tidak hanya penting dalam konteks satu mata kuliah, tetapi juga menjadi fondasi dalam berbagai aspek pendidikan dan praktik mengajar di lapangan.

7

Aksi Nyata

  • Apa manfaat pembelajaran ini untuk kesiapan Anda sebagai guru?

Pembelajaran mengenai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan sebagai scaffolding pada ZPD memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesiapan saya sebagai calon guru. Melalui pemahaman konsep ZPD, saya menyadari bahwa setiap peserta didik memiliki zona perkembangan yang berbeda-ada jarak antara kemampuan aktual dengan potensi maksimal yang bisa dicapai melalui bimbingan. Di sinilah peran scaffolding menjadi sangat penting. Saya belajar bahwa bantuan yang diberikan guru harus bersifat temporer, spesifik, dan bertahap, sehingga peserta didik dapat berkembang secara mandiri. Konsep ini sangat relevan dengan materi lain seperti perkembangan peserta didik, di mana guru harus memahami karakteristik kognitif, afektif, dan psikomotorik setiap anak, serta filosofi pendidikan Indonesia yang menekankan pentingnya menuntun siswa sesuai kodrat dan potensinya, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam sistem among.

Selain itu, keterkaitan dengan mata kuliah perencanaan pembelajaran dan asesmen juga sangat jelas. Saya jadi paham bahwa dalam merancang pembelajaran, guru perlu melakukan asesmen diagnostik untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan menentukan strategi scaffolding yang tepat. Hal ini akan memudahkan dalam memberikan bantuan yang sesuai, baik berupa petunjuk, saran, pertanyaan pemantik, maupun modeling, sehingga siswa dapat menghubungkan pengetahuan lama dengan konsep baru yang dipelajari. Pengalaman ini juga memperkuat kesiapan saya dalam praktik pengalaman lapangan (PPL), karena saya sudah memiliki bekal untuk menerapkan scaffolding secara nyata di kelas, membantu siswa menghadapi tantangan belajar, dan secara bertahap melepas bantuan agar mereka tumbuh menjadi pembelajar mandiri. Secara keseluruhan, materi ini mengajarkan saya untuk menjadi guru yang adaptif, responsif, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif serta menghargai keberagaman karakteristik siswa. Dengan mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai mata kuliah, saya semakin siap untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang efektif, bermakna, dan membangun kemandirian serta kemampuan berpikir kritis peserta didik.

  • Bagaimana Anda menilai kesiapan Anda saat ini, dalam skala 1-10? Apa alasannya?

Jika saya menilai kesiapan diri saya saat ini dalam memahami dan menerapkan materi tentang Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD, saya memberi diri saya nilai 8 dari 10. Penilaian ini saya dasarkan pada pemahaman yang sudah saya peroleh dari materi inti, serta keterkaitannya dengan materi lain di dalam maupun di luar mata kuliah ini. Saya merasa cukup siap karena telah memahami bahwa scaffolding bukan hanya soal memberi bantuan, tetapi juga tentang bagaimana bantuan itu diberikan secara bertahap, spesifik, dan disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan peserta didik di zona perkembangan proksimalnya. Saya juga memahami pentingnya interaksi sosial, kolaborasi, dan peran guru sebagai fasilitator yang harus mampu mengenali karakteristik dan kebutuhan belajar siswa. Selain itu, saya melihat koneksi yang kuat antara materi ini dengan mata kuliah seperti Perkembangan Peserta Didik, Prinsip Pengajaran dan Asesmen yang Efektif, serta Filosofi Pendidikan Indonesia, terutama dalam hal pentingnya menuntun siswa sesuai kodrat dan potensinya seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Namun, saya menyadari bahwa masih ada ruang untuk meningkatkan keterampilan praktis, terutama dalam merancang dan menerapkan strategi scaffolding yang lebih variatif dan adaptif di kelas nyata. Pengalaman langsung di lapangan, seperti saat PPL, akan sangat membantu untuk mengasah kemampuan tersebut. Dengan demikian, saya cukup percaya diri dengan kesiapan saya, namun tetap terbuka untuk terus belajar dan memperdalam praktik pembelajaran berbasis ZPD dan scaffolding secara lebih aplikatif.

  • Apa yang perlu Anda persiapkan lebih lanjut untuk bisa menerapkannya dengan optimal?

Untuk dapat menerapkan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran sebagai scaffolding pada ZPD secara optimal, ada beberapa hal penting yang perlu saya persiapkan lebih lanjut. Pertama, saya harus benar-benar memahami karakteristik dan kebutuhan belajar setiap peserta didik, termasuk mengetahui kemampuan awal mereka melalui asesmen diagnostik. Hal ini sangat penting karena scaffolding hanya akan efektif jika diberikan pada zona perkembangan proksimal (ZPD) yang tepat, yaitu area di mana peserta didik masih membutuhkan bantuan untuk mencapai kompetensi yang lebih tinggi. Kedua, saya perlu memperdalam pemahaman tentang berbagai strategi, metode, dan teknik scaffolding, seperti pemberian petunjuk, saran, instruksi, modeling, serta pertanyaan pemantik yang dapat menstimulasi berpikir kritis dan kreatif. Pemilihan teknik ini harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, baik yang bersifat kognitif, metakognitif, maupun afektif.

Selain itu, saya juga harus mampu membangun interaksi dan komunikasi yang efektif dengan peserta didik, karena proses scaffolding sangat menekankan pada dialog resiprokal dan kolaborasi, baik dengan guru maupun teman sebaya. Pengalaman dalam kerja kelompok dan diskusi juga menjadi bekal penting agar saya dapat mengakomodasi perbedaan pendapat dan latar belakang peserta didik, sehingga pembelajaran menjadi lebih inklusif dan bermakna. Koneksi antar materi, misalnya dengan mata kuliah Perkembangan Peserta Didik, Prinsip Pengajaran dan Asesmen, serta Filosofi Pendidikan Indonesia, memperkuat pemahaman saya bahwa scaffolding harus diterapkan secara humanis, sesuai kodrat dan potensi peserta didik, seperti dalam sistem among Ki Hajar Dewantara. Terakhir, saya perlu terus mengasah kemampuan refleksi dan evaluasi diri agar dapat menyesuaikan bantuan yang diberikan sesuai perkembangan peserta didik, serta siap mengurangi bantuan secara bertahap hingga mereka benar-benar mandiri. Dengan persiapan yang matang, pemahaman yang mendalam, dan keterampilan interaksi yang baik, saya yakin dapat menerapkan scaffolding pada ZPD secara optimal untuk mendukung tumbuh kembang peserta didik secara holistik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages - Menu