|
No. |
Alur pembelajaran |
Pertanyaan Refleksi |
|
1 |
Mulai Dari Diri |
Apa
yang Anda pikirkan tentang topik ini sebelum memulai proses pembelajaran? Sebelum memulai proses pembelajaran mengenai topik 5 “Pendekatan,
Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding
pada ZPD”, saya membayangkan bahwa pembelajaran hanyalah proses transfer
pengetahuan dari guru ke siswa secara satu arah. Saya berpikir bahwa peran
guru sangat dominan, sementara siswa hanya menerima dan meniru apa yang
diajarkan. Namun, setelah memahami materi ini, saya menyadari bahwa proses
pembelajaran yang efektif justru terjadi melalui interaksi dan kolaborasi
antara guru dan siswa, serta antar teman sebaya. Konsep scaffolding dalam
Zone of Proximal Development (ZPD) membuka wawasan saya bahwa bantuan yang
diberikan guru atau teman sebaya bersifat sementara dan sangat spesifik,
bertujuan untuk mendorong siswa agar mampu mengatasi tantangan yang sedikit
di atas kemampuannya saat ini. Saya juga menjadi paham bahwa pembelajaran
yang baik harus mampu menumbuhkan kemandirian secara bertahap melalui
pemberian dukungan yang terstruktur, seperti memberikan petunjuk, contoh,
pertanyaan pemantik, maupun instruksi yang tepat sesuai kebutuhan siswa.
Dengan demikian, saya mulai melihat bahwa pembelajaran bukan hanya soal
menghafal atau meniru, tetapi juga melibatkan proses berpikir kritis,
refleksi, dan pengembangan kemampuan secara bertahap hingga siswa benar-benar
mampu belajar mandiri. Pemahaman ini membuat saya lebih menghargai pentingnya
interaksi sosial, kolaborasi, dan peran aktif siswa dalam proses belajar,
serta menempatkan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa mencapai
potensi terbaiknya. |
|
2 |
Eksplorasi Konsep |
Apa
yang Anda pelajari dari konsep yang Anda pelajari dalam topik ini? Dari konsep yang saya pelajari dalam topik “Pendekatan, Strategi,
Metode, dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada
ZPD”, saya semakin memahami pentingnya peran interaksi antara guru, orang
tua, dan teman sebaya dalam mendukung perkembangan belajar anak. Scaffolding
bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi lebih pada proses pendampingan yang
bertahap dan terstruktur, di mana anak didorong untuk meniru, bereksplorasi,
dan akhirnya mandiri dalam menyelesaikan masalah. Proses ini menekankan bahwa
kemandirian anak tidak berarti tanpa bantuan, melainkan dicapai melalui
interaksi yang saling mendukung dan kolaboratif. Saya juga belajar bahwa
bantuan yang diberikan harus bersifat sementara dan spesifik, disesuaikan
dengan kebutuhan serta perkembangan anak, sehingga anak dapat melampaui batas
kemampuannya sendiri. Selain itu, strategi scaffolding sangat beragam, mulai dari
pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, contoh, hingga pertanyaan
pemantik. Semua strategi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan
metakognitif, kognitif, dan motivasi anak. Saya juga menyadari bahwa dalam
proses scaffolding, guru atau orang tua perlu memonitor dan mengontrol
tingkat kesulitan tugas, menjaga arah pembelajaran, serta memberikan ruang
bagi anak untuk berefleksi dan mengevaluasi kemajuan mereka. Kolaborasi
dengan teman sebaya juga sangat penting karena dapat memperkaya sudut pandang
dan membantu anak belajar menyelesaikan perbedaan pendapat secara
konstruktif. Dari segi teori, saya belajar bahwa proses scaffolding berjalan
secara bertahap, dimulai dari asistensi penuh oleh orang dewasa, kemudian
secara perlahan tanggung jawab berpindah ke anak hingga akhirnya anak mampu
mandiri. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) menjadi inti dari proses
ini, di mana anak belajar paling efektif ketika mendapatkan bantuan yang
tepat pada saat mereka belum sepenuhnya mampu melakukan tugas secara mandiri.
Secara keseluruhan, pembelajaran tentang scaffolding pada ZPD memperkaya
pemahaman saya tentang bagaimana proses belajar yang ideal terjadi, yaitu
melalui interaksi sosial yang dinamis, kolaboratif, dan penuh empati,
sehingga anak dapat berkembang secara optimal baik secara kognitif maupun
sosial-emosional. |
|
3 |
Ruang Kolaborasi |
Apa
yang Anda pelajari lebih lanjut bersama dengan rekan-rekan Anda dalam ruang
kolaborasi? Dalam ruang kolaborasi bersama rekan-rekan, saya mempelajari
bahwa pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan
sebagai scaffolding pada Zone of Proximal Development (ZPD) sangat penting
untuk mengakomodasi perbedaan kompetensi siswa di kelas. Dari diskusi kasus
nyata tentang kesulitan belajar siswa, kami menemukan bahwa memang terdapat
perbedaan kompetensi yang cukup signifikan di antara siswa. Siswa dengan
kompetensi rendah umumnya memiliki pemahaman yang masih dangkal dan seringkali
mengalami kebingungan dalam mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi
baru. Kolaborasi antar siswa, seperti melalui tugas kelompok atau diskusi
teman sebaya, ternyata sangat membantu siswa dengan kompetensi rendah,
meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada pembagian peran dan
keterlibatan aktif semua anggota kelompok. Kami juga mendiskusikan pentingnya
peran guru dalam memberikan bantuan individual, seperti tugas tambahan,
perubahan posisi duduk, atau penggunaan strategi scaffolding lain yang
bersifat temporer dan spesifik sesuai kebutuhan siswa. Strategi ini terbukti
efektif jika dilakukan secara konsisten dan reflektif, karena dapat
meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian siswa secara bertahap. Dari
proses kolaborasi ini, saya semakin memahami bahwa keberhasilan pembelajaran
tidak hanya bergantung pada satu metode saja, tetapi pada sinergi antara
pendekatan yang adaptif, kolaborasi antar siswa, dan intervensi guru yang
terencana dengan baik sesuai dengan prinsip scaffolding dalam ZPD. Kolaborasi
juga memperkaya sudut pandang dan solusi yang dapat diterapkan, sehingga
setiap siswa dapat berkembang sesuai potensi maksimalnya |
|
4 |
Demonstrasi Kontekstual |
Apa
hal penting yang Anda pelajari dari proses demonstrasi kontekstual yang Anda
jalani bersama kelompok (bisa tentang materi, rekan, dan diri sendiri)? Hal penting yang saya pelajari dari proses demonstrasi
kontekstual bersama kelompok adalah bahwa pembelajaran yang efektif sangat
bergantung pada interaksi, kolaborasi, dan pemberian bantuan yang tepat
sesuai kebutuhan anggota kelompok. Materi tentang scaffolding dalam Zone of
Proximal Development (ZPD) menekankan bahwa bantuan dari orang dewasa atau
teman sebaya tidak hanya sekadar memberikan solusi, tetapi juga mendorong
setiap individu untuk berani mengambil tantangan baru, berpikir kritis, dan
mengembangkan sudut pandang sendiri. Melalui diskusi kelompok, saya menyadari
bahwa setiap anggota memiliki latar belakang pengetahuan dan cara berpikir
yang berbeda, sehingga penting untuk saling mendengarkan, menghargai
perbedaan, dan mencari titik temu dalam menyelesaikan tugas. Saya juga
belajar bahwa proses scaffolding harus fleksibel, mulai dari pemberian
petunjuk, saran, hingga modeling, dan secara bertahap dikurangi seiring
meningkatnya kemandirian anggota kelompok. Dari sisi pribadi, pengalaman ini
mengajarkan saya untuk lebih terbuka terhadap kritik dan masukan, serta
pentingnya refleksi diri dalam proses belajar. Secara keseluruhan,
demonstrasi ini memperkuat pemahaman saya bahwa keberhasilan pembelajaran
tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh kualitas
interaksi, komunikasi, dan strategi scaffolding yang diterapkan dalam
kelompok. |
|
5 |
Elaborasi Pemahaman |
Setelah mempelajari materi tentang “Pendekatan, Strategi, Metode,
dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD (Zone of
Proximal Development)”, saya memahami bahwa inti dari scaffolding adalah
proses pendampingan yang bersifat sementara dan terstruktur, yang diberikan
oleh guru, orang tua, atau teman sebaya kepada anak dalam proses belajar.
Pendekatan ini sangat menekankan pentingnya interaksi sosial dalam
pembelajaran, di mana anak tidak hanya sekadar meniru, tetapi juga diajak untuk
berpikir kritis, mengemukakan pendapat, dan berani mengambil tantangan yang
lebih tinggi sesuai dengan perkembangan kemampuannya. Dalam praktiknya,
scaffolding mengakomodasi kebutuhan anak melalui berbagai strategi, seperti
pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, contoh, dan pertanyaan
pemantik. Strategi ini dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran, apakah untuk
mengembangkan kemampuan metakognitif, kognitif, atau motivasi anak. Proses
ini juga melibatkan penyesuaian tingkat kesulitan tugas agar anak tetap
termotivasi dan tidak merasa frustasi, serta monitoring dan refleksi terhadap
capaian pembelajaran. Saya juga memahami bahwa scaffolding tidak hanya terjadi antara
guru dan siswa, tetapi juga bisa melalui kolaborasi dengan teman sebaya.
Kolaborasi ini memungkinkan anak untuk melihat berbagai sudut pandang dan
belajar berkoordinasi dalam menyelesaikan perbedaan pendapat. Selain itu,
proses scaffolding berlangsung secara bertahap, mulai dari bantuan penuh
hingga akhirnya anak mampu mandiri dan bantuan dapat dilepaskan. Secara
keseluruhan, pendekatan scaffolding pada ZPD menegaskan bahwa kemandirian
anak dalam belajar bukan berarti tanpa bantuan, melainkan hasil dari proses
interaksi dan pendampingan yang terstruktur, sehingga anak dapat melampaui
batas kemampuannya sendiri dan berkembang secara optimal, baik secara
kognitif, metakognitif, maupun afektif.
Setelah mempelajari materi tentang “Pendekatan, Strategi, Metode,
dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD”, saya
mengalami perubahan pemahaman yang cukup signifikan dibandingkan sebelum
pembelajaran dimulai. Awalnya, saya mengira scaffolding hanyalah bantuan
sementara yang diberikan guru kepada siswa agar mereka bisa memahami materi
yang sulit, dan setelah itu bantuan tersebut dihilangkan. Namun, setelah
mendalami materi ini, saya memahami bahwa scaffolding jauh lebih kompleks dan
dinamis. Scaffolding tidak sekadar memberi bantuan, tetapi juga melibatkan
interaksi sosial yang intens antara guru, orang tua, dan teman sebaya, di
mana proses imitasi, dialog kritis, dan kolaborasi menjadi kunci utama. Saya
juga baru memahami bahwa tujuan utama scaffolding adalah membantu anak
melampaui kemampuan awalnya melalui proses bertahap yang menekankan
kemandirian, namun tetap dalam konteks interaksi sosial yang mendukung.
Selain itu, saya kini mengerti bahwa strategi scaffolding sangat beragam,
mulai dari pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, contoh, hingga
pertanyaan pemantik, yang semuanya disesuaikan dengan kebutuhan metakognitif,
kognitif, dan afektif anak. Hal baru lainnya adalah pentingnya monitoring,
pengendalian tingkat frustrasi, dan pemberian ruang bagi anak untuk
bereksplorasi secara mandiri setelah mendapatkan modeling dari orang dewasa.
Dengan demikian, pemahaman saya berkembang bahwa scaffolding adalah proses
yang sangat terstruktur, kolaboratif, dan menyesuaikan dengan perkembangan
anak dalam zona perkembangan proksimal (ZPD), bukan sekadar bantuan sesaat.
Setelah mempelajari materi tentang Pendekatan, Strategi, Metode,
dan Teknik Pembelajaran yang Diterapkan sebagai Scaffolding pada Zona
Proksimal Perkembangan (ZPD), saya merasa semakin memahami pentingnya peran
interaksi antara guru, orang tua, dan teman sebaya dalam mendukung
perkembangan kognitif dan psikologis anak. Konsep scaffolding menekankan
bahwa bantuan yang diberikan harus bersifat temporer dan spesifik, serta
disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi anak. Proses ini tidak hanya sekadar
meniru, tetapi juga mendorong anak untuk berpikir kritis, mengemukakan
pendapat, dan mengambil tantangan yang lebih tinggi secara bertahap hingga
akhirnya mampu mandiri. Saya juga belajar bahwa strategi scaffolding sangat
beragam, mulai dari pemberian saran, petunjuk, instruksi, penjelasan, model,
hingga pertanyaan pemantik, yang semuanya dapat diarahkan untuk mengembangkan
kemampuan metakognitif, kognitif, maupun motivasi anak. Namun, dari materi ini, saya ingin mempelajari lebih lanjut
tentang bagaimana penerapan scaffolding secara konkret di kelas dengan
berbagai karakteristik siswa yang berbeda, serta bagaimana guru dapat secara
efektif menyesuaikan strategi scaffolding sesuai kebutuhan individu siswa
dalam situasi pembelajaran nyata. Saya juga tertarik untuk mengetahui lebih
dalam tentang tantangan yang dihadapi guru dalam mengurangi bantuan secara
bertahap (fading) tanpa membuat siswa merasa kehilangan dukungan, serta bagaimana
kolaborasi antar siswa dapat dioptimalkan sebagai bagian dari scaffolding.
Selain itu, saya ingin mengeksplorasi lebih lanjut tentang penggunaan
teknologi sebagai media scaffolding modern yang dapat memperkaya pengalaman
belajar siswa di era digital saat ini. Dengan memahami aspek-aspek tersebut,
saya berharap dapat mengembangkan kemampuan dalam merancang pembelajaran yang
benar-benar responsif terhadap kebutuhan dan potensi setiap anak. |
|
6 |
Koneksi Antar Materi |
Apa yang Anda pelajari dari koneksi antar materi baik di dalam
mata kuliah yang sama maupun dengan mata kuliah lain? Dari pembelajaran tentang “Pendekatan, Strategi, Metode, dan
Teknik Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD”, saya
semakin memahami betapa pentingnya keterkaitan antar materi baik di dalam
satu mata kuliah maupun dengan mata kuliah lain. Materi ini menyoroti bahwa
proses belajar tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga
pada interaksi sosial, kolaborasi, dan pemberian bimbingan yang terstruktur
agar peserta didik dapat berkembang secara bertahap menuju kemandirian. Konsep
scaffolding dalam ZPD mengajarkan bahwa bantuan yang diberikan guru atau
teman sebaya harus sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan peserta didik,
serta dilakukan secara bertahap hingga mereka mampu mandiri. Hal ini sangat
berkaitan dengan materi dalam mata kuliah lain seperti Perkembangan Peserta
Didik, di mana pemahaman tentang karakteristik dan kebutuhan belajar anak
menjadi dasar dalam merancang pembelajaran yang efektif. Selain itu, materi
ini juga terhubung dengan mata kuliah Perencanaan dan Asesmen Pembelajaran,
karena guru perlu melakukan asesmen diagnostik untuk mengetahui ZPD peserta
didik sebelum menentukan strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang
tepat. Keterkaitan dengan mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia juga
sangat terasa, terutama dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang “sistem
among” yang menekankan pentingnya menuntun peserta didik sesuai kodrat dan
potensinya. Di sini, scaffolding menjadi wujud nyata dari filosofi tersebut,
di mana guru berperan sebagai penuntun yang penuh kasih sayang dan mampu
menyesuaikan bantuan sesuai kebutuhan peserta didik. Selain itu, pengalaman
praktik lapangan (PPL) juga menjadi ajang penerapan langsung konsep scaffolding
dan ZPD, karena mahasiswa calon guru harus mampu mengidentifikasi kebutuhan
siswa dan memberikan bantuan yang efektif agar siswa dapat mencapai potensi
maksimalnya. Secara keseluruhan, koneksi antar materi ini memperkuat
pemahaman saya bahwa pembelajaran yang efektif harus responsif, adaptif, dan
berpusat pada peserta didik. Guru tidak hanya sebagai pemberi materi, tetapi
juga sebagai fasilitator, motivator, dan pendamping yang mampu membimbing
peserta didik melalui tahapan-tahapan perkembangan belajar. Pendekatan,
strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang dipilih harus selalu
memperhatikan keberagaman karakteristik, latar belakang, serta kebutuhan
peserta didik agar proses pembelajaran benar-benar bermakna dan mampu
menumbuhkan kemandirian serta keterampilan berpikir kritis. Dengan demikian,
pemahaman tentang scaffolding pada ZPD tidak hanya penting dalam konteks satu
mata kuliah, tetapi juga menjadi fondasi dalam berbagai aspek pendidikan dan
praktik mengajar di lapangan. |
|
7 |
Aksi Nyata |
Pembelajaran mengenai pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran yang diterapkan sebagai scaffolding pada ZPD memberikan manfaat
yang sangat besar bagi kesiapan saya sebagai calon guru. Melalui pemahaman
konsep ZPD, saya menyadari bahwa setiap peserta didik memiliki zona
perkembangan yang berbeda-ada jarak antara kemampuan aktual dengan potensi
maksimal yang bisa dicapai melalui bimbingan. Di sinilah peran scaffolding
menjadi sangat penting. Saya belajar bahwa bantuan yang diberikan guru harus
bersifat temporer, spesifik, dan bertahap, sehingga peserta didik dapat
berkembang secara mandiri. Konsep ini sangat relevan dengan materi lain
seperti perkembangan peserta didik, di mana guru harus memahami karakteristik
kognitif, afektif, dan psikomotorik setiap anak, serta filosofi pendidikan
Indonesia yang menekankan pentingnya menuntun siswa sesuai kodrat dan
potensinya, seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam sistem
among. Selain itu, keterkaitan dengan mata kuliah perencanaan
pembelajaran dan asesmen juga sangat jelas. Saya jadi paham bahwa dalam
merancang pembelajaran, guru perlu melakukan asesmen diagnostik untuk
mengetahui kemampuan awal siswa dan menentukan strategi scaffolding yang
tepat. Hal ini akan memudahkan dalam memberikan bantuan yang sesuai, baik
berupa petunjuk, saran, pertanyaan pemantik, maupun modeling, sehingga siswa
dapat menghubungkan pengetahuan lama dengan konsep baru yang dipelajari.
Pengalaman ini juga memperkuat kesiapan saya dalam praktik pengalaman
lapangan (PPL), karena saya sudah memiliki bekal untuk menerapkan scaffolding
secara nyata di kelas, membantu siswa menghadapi tantangan belajar, dan
secara bertahap melepas bantuan agar mereka tumbuh menjadi pembelajar
mandiri. Secara keseluruhan, materi ini mengajarkan saya untuk menjadi guru
yang adaptif, responsif, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang
kolaboratif serta menghargai keberagaman karakteristik siswa. Dengan
mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai mata kuliah, saya semakin siap
untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang efektif, bermakna, dan
membangun kemandirian serta kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Jika saya menilai kesiapan diri saya saat ini dalam memahami dan
menerapkan materi tentang Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik
Pembelajaran yang Diterapkan Sebagai Scaffolding pada ZPD, saya memberi diri
saya nilai 8 dari 10. Penilaian ini saya dasarkan pada pemahaman yang sudah
saya peroleh dari materi inti, serta keterkaitannya dengan materi lain di
dalam maupun di luar mata kuliah ini. Saya merasa cukup siap karena telah
memahami bahwa scaffolding bukan hanya soal memberi bantuan, tetapi juga tentang
bagaimana bantuan itu diberikan secara bertahap, spesifik, dan disesuaikan
dengan kebutuhan serta perkembangan peserta didik di zona perkembangan
proksimalnya. Saya juga memahami pentingnya interaksi sosial, kolaborasi, dan
peran guru sebagai fasilitator yang harus mampu mengenali karakteristik dan
kebutuhan belajar siswa. Selain itu, saya melihat koneksi yang kuat antara
materi ini dengan mata kuliah seperti Perkembangan Peserta Didik, Prinsip
Pengajaran dan Asesmen yang Efektif, serta Filosofi Pendidikan Indonesia,
terutama dalam hal pentingnya menuntun siswa sesuai kodrat dan potensinya
seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Namun, saya menyadari bahwa masih
ada ruang untuk meningkatkan keterampilan praktis, terutama dalam merancang
dan menerapkan strategi scaffolding yang lebih variatif dan adaptif di kelas
nyata. Pengalaman langsung di lapangan, seperti saat PPL, akan sangat
membantu untuk mengasah kemampuan tersebut. Dengan demikian, saya cukup
percaya diri dengan kesiapan saya, namun tetap terbuka untuk terus belajar
dan memperdalam praktik pembelajaran berbasis ZPD dan scaffolding secara
lebih aplikatif.
Untuk dapat menerapkan pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran sebagai scaffolding pada ZPD secara optimal, ada beberapa hal
penting yang perlu saya persiapkan lebih lanjut. Pertama, saya harus
benar-benar memahami karakteristik dan kebutuhan belajar setiap peserta
didik, termasuk mengetahui kemampuan awal mereka melalui asesmen diagnostik.
Hal ini sangat penting karena scaffolding hanya akan efektif jika diberikan
pada zona perkembangan proksimal (ZPD) yang tepat, yaitu area di mana peserta
didik masih membutuhkan bantuan untuk mencapai kompetensi yang lebih tinggi.
Kedua, saya perlu memperdalam pemahaman tentang berbagai strategi, metode,
dan teknik scaffolding, seperti pemberian petunjuk, saran, instruksi,
modeling, serta pertanyaan pemantik yang dapat menstimulasi berpikir kritis
dan kreatif. Pemilihan teknik ini harus disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran, baik yang bersifat kognitif, metakognitif, maupun afektif. Selain itu, saya juga harus mampu membangun interaksi dan
komunikasi yang efektif dengan peserta didik, karena proses scaffolding
sangat menekankan pada dialog resiprokal dan kolaborasi, baik dengan guru
maupun teman sebaya. Pengalaman dalam kerja kelompok dan diskusi juga menjadi
bekal penting agar saya dapat mengakomodasi perbedaan pendapat dan latar
belakang peserta didik, sehingga pembelajaran menjadi lebih inklusif dan
bermakna. Koneksi antar materi, misalnya dengan mata kuliah Perkembangan
Peserta Didik, Prinsip Pengajaran dan Asesmen, serta Filosofi Pendidikan
Indonesia, memperkuat pemahaman saya bahwa scaffolding harus diterapkan
secara humanis, sesuai kodrat dan potensi peserta didik, seperti dalam sistem
among Ki Hajar Dewantara. Terakhir, saya perlu terus mengasah kemampuan
refleksi dan evaluasi diri agar dapat menyesuaikan bantuan yang diberikan
sesuai perkembangan peserta didik, serta siap mengurangi bantuan secara
bertahap hingga mereka benar-benar mandiri. Dengan persiapan yang matang,
pemahaman yang mendalam, dan keterampilan interaksi yang baik, saya yakin
dapat menerapkan scaffolding pada ZPD secara optimal untuk mendukung tumbuh
kembang peserta didik secara holistik. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar