Sabtu, 10 Mei 2025

Aksi Nyata Topik 3. Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Pembelajaran-


Video diatas adalah hasil belajar saya dalam mata kuliah Perspektif Sosiokultural dalam Pendidikan Indonesia khususnya topik III Perspektif sosial, budaya, ekonomo dan politik dalam pembelajaran.

Menyadari Dimensi Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Dunia Pendidikan

Awalnya, saya memandang pendidikan sebagai ruang yang netral—tempat berlangsungnya proses transfer ilmu pengetahuan yang objektif dan teknis. Namun, seiring dengan pemahaman saya yang berkembang, saya menyadari bahwa pendidikan adalah arena yang kompleks, sarat dengan muatan sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Dalam konteks Indonesia, saya melihat bahwa kesenjangan sosial-ekonomi, norma budaya yang beragam, serta kebijakan politik yang cenderung sentralistik, menciptakan realitas pendidikan yang tidak seragam bagi setiap siswa. Sebagai calon guru, saya menyadari bahwa peran saya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan ruang belajar yang lebih inklusif dan adil.

Saya belajar dari pendekatan critical pedagogy yang dikenalkan oleh tokoh-tokoh seperti Paulo Freire, Antonio Gramsci, dan para pemikir Frankfurt School. Saya meyakini bahwa pendidikan tidak bisa hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga harus menjawab persoalan ketidaksetaraan struktural yang seringkali tersembunyi dalam praktik sehari-hari. Ketika saya mulai memahami bahwa setiap siswa membawa latar belakang sosial-budaya yang unik, saya pun mulai merancang pembelajaran bukan hanya untuk menyampaikan materi, tetapi juga untuk memberdayakan mereka menjadi subjek aktif yang mampu membaca dan mengubah realitas sosialnya.

Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik dalam Praktik Pendidikan

Dalam aksi nyata yang saya lakukan, saya mengalami pergeseran paradigma dari pembelajaran yang bersifat teknis menuju pembelajaran yang responsif terhadap realitas sosial siswa. Di awal refleksi, saya menyadari bahwa saya terlalu fokus pada hal-hal teknis seperti pembuatan RPP atau penyusunan asesmen. Namun, melalui kajian perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik, wawasan saya berkembang menjadi lebih kritis dan holistik.

Perspektif Sosial dan Budaya: Saya memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh norma, nilai, dan tradisi yang membentuk cara berpikir dan bertindak siswa. Teori Ratner (2000) tentang lima dimensi budaya—aktivitas budaya, nilai, materi fisik, fenomena psikologis, dan agen individu—membantu saya memahami bagaimana karakter siswa terbentuk dalam proses belajar. Saya juga sangat terkesan dengan temuan Ray Rist yang menunjukkan bahwa keberpihakan guru bisa terjadi tanpa disadari dan dapat memperkuat ketimpangan. Hal ini menyadarkan saya untuk terus merefleksikan bagaimana saya memperlakukan siswa saya nantinya.

Perspektif Ekonomi: Dari studi kasus di SMKN 5 Tangerang Selatan dan SMKN 1 Cimahi, saya belajar bahwa kondisi ekonomi sangat menentukan akses siswa terhadap pendidikan. Ada siswa yang kesulitan membeli seragam, atau tidak memiliki akses teknologi yang memadai. Sebagai calon guru, saya belajar pentingnya menggunakan strategi pembelajaran yang adaptif dan kontekstual, seperti pendekatan individual, pembelajaran proyek, dan media visual yang sederhana.

Perspektif Politik: Saya kini menyadari bahwa pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Kurikulum dan kebijakan pendidikan sering mencerminkan kepentingan kekuasaan tertentu. Dari teori Gramsci, saya belajar tentang dominasi kelompok mayoritas dan bagaimana hal ini dapat meminggirkan budaya lokal. Sementara Freire mengajarkan saya bahwa saya harus berpihak pada siswa yang terpinggirkan, serta menciptakan ruang bagi mereka untuk memiliki suara dalam pembelajaran. Saya mencoba menerapkan semua ini dalam demonstrasi kontekstual yang saya jalani. Kami menggunakan video dokumenter “Cermin dari Pelosok” sebagai media reflektif dan merancang pembelajaran yang relevan terhadap isu kesenjangan pendidikan. Saya merasa bahwa melalui pengalaman ini, saya bukan hanya memahami teori, tetapi juga menemukan cara nyata untuk menerapkannya.

Keterkaitan dengan Materi Perspektif Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik

Materi tentang “Isu-isu dalam Pembelajaran” melalui perspektif sosial, budaya, ekonomi, dan politik sangat relevan dengan pemahaman saya sebagai calon guru. Saya memahami bahwa pembelajaran yang adil dan inklusif harus mempertimbangkan:

  • Sosial: Saya harus peka terhadap dinamika sosial siswa, seperti latar belakang keluarga, konflik internal, hingga relasi sosial yang mereka alami.
  • Budaya: Saya harus menghargai keberagaman budaya dan mengintegrasikannya dalam materi ajar agar siswa merasa dihargai dan terlibat.
  • Ekonomi: Saya perlu menyesuaikan metode dan media pembelajaran agar dapat diakses oleh semua siswa, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
  • Politik: Saya harus menyadari bahwa kebijakan pendidikan bisa bersifat hegemonik dan berusaha untuk mendukung kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial.

Menjadi Guru yang Berdaya dan Memberdayakan

Dari pembelajaran ini, saya menyadari bahwa saya bukan hanya sedang mempersiapkan diri menjadi guru pengampu materi, tetapi juga menjadi pendidik yang berdaya dan mampu memberdayakan. Saya ingin menjadi guru yang memahami konteks kehidupan siswa dan berusaha mengubah ruang kelas menjadi tempat yang aman, adil, dan membebaskan. Saya berkomitmen untuk terus belajar, merefleksi, dan memperjuangkan pendidikan yang bermakna bagi semua anak, tanpa terkecuali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages - Menu